Jika anda mengenal Steve Job, Max Planc,
Einsten, dan Newton, apakah anda mengenal Muhammad Al-Fatih…?? Saya
yakin hanya sebagian kecil dari kita yang mengenal pahlawan dan tokoh
Muslim. Muhammad Al-Fatih atau dikenal dengan Mehmed II adalah putra
dari Sultan Murad II yang merupakan pemimpin Kesultanan Turki Utsmani.
Lalu apa sebenarnya keistimewaan Sultan Mehmed II…??
Penulis : Felix Y. SiauwPenerbit : Khilafah PressJumlah halaman: 318 hal“Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya” (HR. Ahmad).
Demikianlah sepenggal sabda Rasululloh
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam yang disampaikan kepada sahabatnya.
Pada saat zaman Rasululloh, Islam adalah peradaban yang baru saja
bangkit ditengah-tengah hegemoni Persia dan Romawi. Namun, bisyarah
Rasululloh ini ternyata mampu menginspirasi para sahabat dan
mengantarkan mereka kepada kemenangan demi kemenangan. Melalui hadits
ini pula Rasul telah memberikan kabar mengenai pemimpin yang terbaik dan
pasukan yang terbaik dan tentunya dalam salah satu penaklukkan yang
paling agung dalam sejarah Islam dan termasuk pertempuran yang paling
berpengaruh dan diingat oleh dunia.
Mulai dari kecil Muhammad Al-Fatih sudah
dididik untuk menjadi pemimpin. Guru beliau yaitu Syaikh Aaq Syamsuddin
selalu membacakan hadits diatas yang pada akhirnya menginspirasi
Muhammad Al-Fatih untuk menjadi pemimpin yang dijanjikan oleh Rasul
Shalallahu ‘alaihi wa salam. Penaklukan Konstantinopel yang dikuasai
oleh kaum Kristen merupakan impian dari ayah Muhammad Al-Fatih. Sultan
Murad II pernah mengepung Konstantinopel dan hampir saja menaklukannya,
namun Alloh berkehendak lain sehingga Konstantinopel masih dikuasai oleh
kaum musyrikin. Impian ini diteruskan oleh putranya yaitu Muhammad
Al-Fatih.
Muhammad Al-Fatih menjelang dewasa dan
tongkat kepemimpinan sekarang berada di tangannya. Sesuai dengan
impiannya, beliau menjadikan penaklukkan Konstantinopel sebagai target
utamanya. Dalam persiapannya, beliau telah merancang dan merencakan
dengan penuh perhitungan. Muhammad Al-Fatih terkenal sebagai orang yang
bergerak cepat, ahli strategi, dan ahli logistik yang handal. Rencana
ini telah dimulai dari bulan Mei 1452 M. Beliau telah mempelajari medan
perang, sehingga ada satu selat yang menghubungkan ke Konstantinopel
yang harus dikuasai, sehingga tanggal 31 Agustus 1452 M berhasil
mendirikan bangunan yang megah untuk menjaga Selat Bosphorus. Dengan
adanya bangunan ini, setiap kapal yang akan menuju Konstantinopel dapat
diperiksa terlebih dahulu.
Pertempuran untuk menaklukkan
Konstantinopel merupakan pertempuran yang panjang. Mulai dari bulan
januari, pasukan Muhammad Al-Fatih telah berangkat menuju
konstantinopel. Dalam pertempurannya dapat diambil hikmah
- Keyakinan akan janji Rasul merupakan acuan Muhammad Al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita harus benar-benar yakin kepada Alloh dan Rasululloh akan kebenaran ajaran Islam yang dibawanya. Muhammad Al-Fatih sangat yakin akan penaklukkan konstantinopel sehingga beliau melakukan Ikhtiar yang maksimal, do’a yang maksimal pula untuk membuktikan bisyarah Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa salam.
- Dalam strategi dakwah, gunakanlah metode dan alat yang mutakhir. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad Al-Fatih dengan menggunakan meriam besar yang tidak pernah digunakan oleh siapapun sebelumnya. Penggunaan meriam ini menjadi penurun mental musuh dan menjadi jalan bagi pasukan Muslim dalam penaklukannya.
Dalam kehidupan sekarang, kita harus
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi minimal dalam bidang keilmuan
kita. Islam adalah agama yang mengagungkan ilmu. Jika kita menguasai
ilmu keprofesian kita, maka itu akan menjadi “meriam” yang akan
mengantarkan kaum Muslim menuju kemenangan dan membuktikan bahwa Islam
adalah agama Rahmatan lilalamin.
- Jaga kondisi ruhiah kita dalam kondisi apapun. Pernah terjadi saat menggempur benteng konstaninopel, pasukan Muslim selalu mengalami kegagalan. Muhammad Al-Fatih langsung melihat pada kondisi pasukan, beliau dengan segera menginstruksikan bahwa amalan yaumiah setiap prajurit harus tetap dijaga dan dikontrol. Hal ini dikarenakan jika hati prajurit didominasi dengan mengingat Alloh, maka pertolongan Alloh pasti diturunkan.
- Bergerak cepat dalam bertindak. Muhammad Al-Fatih membangun bangunan megah di Selat Bosphorus dalam waktu 4 bulan saja, padahal pada waktu itu seharusnya bangunan diselesaukan dalam waktu lebih dari 4 bulan. Selain itu, pada saat pasukan Laut kaum Muslimin terdesak, Muhammad Al-Fatih langsung berfikir untuk memindahkan pasukan laut tersebut ke bagian laut yang lain. Lalu, lewat mana kapal tersebut dipindahkan? Kapal-kapal tersebut dipindahakan lewat darat dan dalam waktu satu malam.
- Tetap menjaga akhlaq walaupun dengan non-muslim. Setelah pasukan Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel, belaiu tetap bertindak sesuai tuntunan Rasul dalam memperlakukan rakyat Konstantinopel. Beliau menyatakan tidak akan satu orangpun yang tersakiti setelah penaklukkan ini. Hal ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang damai.
Pada tanggal 29 Mei 1453 M kota
Konstantinopel berhasil ditaklukkan. Janji Rasululloh pasti terjadi,
karena perkataan Rasul dijaga oleh Alloh. Semoga kita semua dapat
menambah keyakinan kita kepada Alloh dan rasul-Nya dengan menjalankan
semua perintah Alloh dan sunnah Rasul.
Apakah anda Muhammad Al-Fatih yang selanjutnya…???

0 comments:
Post a Comment